PELABUHAN CINTA 1
PELABUHAN CINTA
"Ayo !" Ajak Hery,salah seorang sahabat terbaikku mendesak aku tak bosan-bosannya.
"Sekali ini saja",kali ini Aris yang bicara dengan tangan bersedekap di dada.
"Nggak usah terlalu `jaim` begitulah".Haris ikut nimbrung.
Aku diam saja.Kadang aku senyum-senyum menanggapi ajakan teman-teman akrabku,yang sejak habis kerja jam lima sore tadi,ngajak aku jalan-jalan ke kota.
"Pasti kamu nggak menyesal kalo ikut kami",kata Hery lagi
"Ada apa sih?"tanyaku pelan.Meskipun aku tahu kemana tujuan mereka.Sekedar ingin memastikan saja,sekaligus ingin cari tahu kenapa kali ini mereka bernafsu banget ingin ngajak aku jalan.Padahal biasanya,di pelabuhan-pelabuhan lain,kalo aku udah nolak dengan halus,mereka langsung aja pergi.
"Pasti ada sesuatu yang menarik dan ingin mereka tunjukin ke aku",batinku menebak-nebak.
Sudah dua malam Seita Maru sandar dipelabuhan Sorong.Dua malam pula aku nggak pernah tinggalkan kapal.Malas jalan.Lebih banyak aku habiskan waktuku nonton tivi atau main pees di kamar.
Ketiga teman akrabku itu,yang bersamaan naik kapal Seita Maru enam bulan yang lalu, jarang sekali tinggal di kapal.Seakan-akan tidak ada capek-capeknya mereka jalan sehabis kerja jam lima sore atau sehabis maghrib.Dan pulangnya biasanya tengah malam dalam keadaan mabuk.
"Dea Deo semakin rame sekarang.Sound systemnya mantap.Dan yang terpenting,cewek-ceweknya,Man!",Hery semakin gencar berpromosi,diembel-embeli dengan acungan dua jempol.Aris dan Haris tertawa berbarengan membuat aku semakin penasaran.
Aku teringat tiga bulan yang lalu,waktu kapalku sandar di pelabuhan ini lagi.Aku pernah ke Dea Deo.Sebuah tempat karaoke yang jadi langganan teman-temanku ini.Tapi bagiku nggak ada yang yang istimewa di tempat seperti itu.Lagian,aku nggak minum,nggak tahu nyanyi,apalagi dekat-dekat cewek.Aku paling nggak bisa dekat dengan cewek.Seluruh badanku gemetar,kalau ada pelayan yang mendekat dan menawarkan diri untuk sekedar menemani duduk sambil menyanyi.
Akhirnya aku duduk menyendiri di sudut sofa sambil memperhatikan teman-temanku adu vocal macam konser KDI di televisi.Terus terang aku suka dengar orang nyanyi.Apalagi lagu dangdut.Tapi aku nggak tahu nyanyi sama sekali.Aku diam-diam saja,sampai pulang menjelang pagi dalam keradaan ngantuk dan perasaan menyesal mengingat besoknya aku harus bangun pagi-pagi untuk kerja di ruang mesin.
"Ayolah!"ajak Haris lagi sambil menarik tanganku.
Aku perhatikan Seiko kinetic di pergelangan tangan kiriku.Jarum pendeknya menunjukkan angka sembilan tepat.Karena didesak terus oleh mereka,terpaksa aku mengalah,meskipun cuma dengan setengah hati.Karena aku pikir,mau ngapain aku di sana.Tapi,katanya lagi,yang terpenting turut meramaikan saja.Nggak seru-katanya-kalau diantara kita empat sekawan ada yang nggak hadir disaat lagi bersenang-senang.
Aku menurut saja.Aku lebih banyak diam dan tak banyak bicara mengikuti mereka. Sampai masuk dan duduk di dalam Dea Deo pun aku lebih memilih diam di sudut sofa. Paling-paling kalau ada perlu,bicara seperlunya saja.
Penampilanku malam ini agak lain dari mereka.Aku memakai gamis yang sebenarnya adalah baju silat yang lebih mirip gamis ketimbang baju latihan beladiri.Dipadu dengan celana jeans yang agak longgar.Di leherku ada tasbih yang bijinya besar-besar warna coklat mirip-mirip tasbih pendekar Shaolin.Janggutku panjang,sekitar lima sentimeter. Klop deh penampilanku seperti ustadz yang mau pergi pengajian.Kalau ada orang lain yang perhatikan,pasti akan heran melihat aku yang penampilan kayak ustadz tapi masuk di tempat karaoke.Oh ya,tasbih ini aku peroleh dari perguruan tenaga dalam yang katanya "ada isinya".Aku juga nggak tahu apa "isinya".Tapi yang jelas,tasbih itu nggak boleh di bawa masuk toilet dan paling sering aku pakai dzikir sehabis sholat.
Ketiga temanku pesan bir dan aku pesan sprite-soft drink kesukaanku.Nggak lama kemudian di samping ketiga temanku masing-masing telah duduk makhluk manis yang menemani mereka ngobrol dan menyanyi.Mereka sempat bertanya ke aku"perlu teman apa nggak".Dengan tegas aku jawab"nggak!".
Seperti biasa aku duduk di sudut sofa,melipat tangan di dada memperhatikan layar kaca yang terdapat setiap sudut ruangan yang menampilkan klip lagu yang sedang dinyanyikan.
Suasana ruangan yang begitu luas dan tamaram itu semakin ramai ketika salah seorang pengunjung menyanyikan lagu dangdut.Ada beberapa pasangan yang turun ke lantai disko berjoget dangdut,termasuk Aris dan pasangannya yang menurutku lumayan manis. Suara musik yang keras dan mengasyikkan itu tak urung memaksa kakiku di bawah meja ikut bergerak mengikuti irama lagu.
Pada saat yang bersamaan kulihat Haris dan Hery bisik-bisik sambil melirik ke arahku di sela-sela cahaya lampu disko yang berkelap-kelip.Kedua teman ceweknya pun ikut nimbrung.Entah apa lagi yang mereka rencanakan.Ah,peduli setan,pikirku.Toh,aku nggak pusingi mereka.Lagian aku asyik dengan lagu-lagu dangdut yang semakin lama semakin membuatku ingin bergoyang di lantai disko.Tapi aku nggak berani.Nggak biasa sih. Jadi malu.Apalagi dari tadi,aku Cuma minum sprite,bukan minuman beralkohol.Jadi aku tetap sadar sesadar-sadarnya,bakal dipelototin orang banyak.Kan malu.
Ketika asyik-asyiknya aku perhatikan orang-orang joget,tiba-tiba di samping berdiri seorang gadis berambut panjang.
"Permisi,Mas!Boleh nggak duduk di sini?"Tanyanya mengagetkanku.
Aku menoleh.Manis juga!Rambutnya panjang terurai rapi sampai di pinggang.Orangnya masih muda sekali.Kutaksir umurnya sekitar 18-an.Aku pandangi dia terus dengan sejuta tanya."Kok tiba-tiba ada cewek datang kesini tanpa kupanggil?Biasanya kan,kalau mau ditemani,harus panggil ceweknya atau pesan langsung pada `mami`nya,supaya ada yang datang menemani duduk dan minum".
"Kalau Mas nggak mau ditemani,aku permisi dulu ya",katanya kembali mengagetkanku.
"Eit,tunggu dulu!",spontan kutahan dia.
"Mbak mau duduk disini?"Tanyaku sejurus kemudian.
"Kalau boleh",jawabnya sopan.
"Silakan ....silakan !"kataku memberi jalan untuk duduk di sampingku antara ceweknya Hery dan aku.
Ada yang temani duduk,bukannya aku tambah semangat.Malah jadi salah tingkah.,Nggak tahu mau memulai pembicaraan dari mana.Karena aku nggak biasa bergaul dengan cewek.Aku diam saja.Sesekali kulirik ke samping kananku,cewek itu juga diam-diam saja.Aku pikir,mungkin dia sama juga denganku.Paling nggak,dia nggak bisa memulai pembicaraan lebih dulu.Atau jangan-jangan dia orang baru.Melihat dari penampilan dan gayanya,masih terlalu lugu untuk disejajarkan dengan teman Hery,Haris atau Aris.
Mungkin karena terlalu lama aku cuekin,dia bangkit dan permisi mau pergi.
Aku kaget,"Lho,kok mau pergi?Katanya mau nemanin aku".
"Iya,tapi kayaknya Mas ini nggak suka ditemani.Dari tadi kok diam-diam saja",katanya sambil menunduk.
"Ow,bukan begitu.Maaf,bukan aku nggak mau bicara.Aku lagi berdamai dengan jiwaku. Terus-terang dari tadi aku deg-degan ditemani cewek.Tapi bukan aku nggak suka,lho. Duduk aja dulu.Ok?"
Akhirnya dia duduk kembali.Tapi seperti sebelumnya,aku tetap nggak tahu mau ngomong apa.Lama nggak ada suara dari kami berdua.Sementara ketiga temanku semakin akrab dengan teman-teman ceweknya.
Oh iya,aku ingat.Aku belum tahu namanya.
"Mbak,aku Pendekar",kataku sambil mengulurkan tangan mengajak kenalan maksudnya.
Kulihat untuk pertama kalinya dia tertawa.Mungkin senang karena aku udah mau bicara, ataukah karena mendengar namaku yang agak aneh githu.
"Atikah",katanya sambil menjabat tanganku.
"Kok,namanya begitu sih,Mas?Kok Pendekar?"tanyanya kemudian sambil tersenyum manis.
"Kalau emang itu namaku?Aneh?Atau nggak percaya?"Tanyaku beruntun dan semakin lancar.Suasana beku yang tercipta dari tadi telah mencair.
"Atau perlu aku tunjukin KTP,sekalian nomer telepon orang tuaku supaya mbak bisa tanya kenapa memberi aku nama Pendekar?"Tanyaku lebih jauh melihatnya semakin bingung.
"Itu nama beneran?"tanyanya nggak percaya.
Aku diam.Mengamati keheranan di wajahnya.Tiba-tiba aku merasa mau ke belakang. Sebelum aku ke kamar kecil,aku lepas tasbih di leherku dan sabuk putih dengan tulisan arab di pinggangku.Aku titip ke Atikah lalu pamit ke belakang.Dia sempat kaget menerimanya.Tapi belum sempat Tanya aku sudah nyelonong pergi.
